Selasa, 01 Februari 2011 - 18:40:03 WIB
Sejarah Barongsai
Diposting oleh : Andreas Probo S
Kategori: Umum - Dibaca: 1008 kali



Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun
420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi
serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima
perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan
raja Fan. Ternyata upaya itu berjalan sukses hingga akhirnya tarian barongsai
pun melegenda hingga kini. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17,ketika terjadi migrasi besar dari Cina
Selatan.



Catatan
tertua mengenai tarian ini, ditemukan di daerah barat kekuasaan dinasti Han, sekitar
tahun 200 sebelum masehi, perayaan mempergunakan naga,
nyang katanye bisa ampe 100 meteran itu, sebenarnya buat muji dewa air, biar
apa? Bener, biar hujan bisa turun, dan tanaman bisa berkembang dengan baik,
sehingga bisa panen. Sebelum dilaksanakan, biasanya  orang-orang didaerah yang akan mengadakan
upacara, bakal melakukan upacara penyucian selama 3 hari lamanya.



Sebenarnya, naga ini, dibuat dari kertas, bambu, kayu, rotan, dan bahan cat
untuk menghias. Lapisan seekor naga pun sebenernya pada awalnya adalah
sembilan, tetapi sekarang telah memiliki banyak pengembangan, hingga ada yang
melebihi duapuluh lapisan, biasanya, setiap lapisan ini memberikan warna kepada
sang naga dengan perlambangan-perlambangan. Pada
dasarnya sang naga berwarna hijau yang melambangkan panen yang melimpah,
lapisan berwarna kuning keemasan melambangkan tanah atau kesuburan, merah
menyala pada ekor dan sisik-sisiknya melambangkan kegembiraan, lapisan berwarna
biru dengan ornamen seperti bentuk ombak lautan, dan sepanjang tubuh sang naga
biasanya dihiasi dengan warna emas dan perak yang menghiasi keseluruhan badan
ini, untuk melambangkan kegembiraan dan kemeriahan perayaan.



Lengkapnya, tarian naga ini biasanya diikuti dengan seseorang yang
mengangkat mutiara berwarna merah. Mutiara ini dikatakan melambangkan matahari
atau kebijaksanaan. Pertanda bahwa sang naga, akan terus mengejar
kebijaksanaan. Tarian naga ini juga biasanya diikuti dengan pemberian angpao
ataupun ikatan selada air dengan pita merah, sebagai tanda persembahan buat
sang naga.



Tarian
Singa atau shi wu, juga punya perlambangannya sendiri. Singa dalam adat n
budaya qta neh, melambangkan kekuatan, keagungan, keberanian, dan kemampuannya
untuk menolak bala. Singa menurut legendanye, adalah anak ke sembilan dari naga
dan memang tuh tugasnya buat jadi guardian, dimana-mana
kalo kita ke daratan tiongkok sekalipun biasanya patung singa, ditaruh di depan
istana, kantor-kantor, rumah, dan tempat-tempat yang penting. Yang paling
terkenal adalah 485 patung singa yang menjadi penjaga jembatan Marcopolo (Luguo
Qiao).



Nah, tarian singa a.k.a barongsai ini, butuh ilmu wushu lebeh tinggi
daripada tarian naga, yang kurang lebih mengandalkan kekuatan dan harmonisasi,
biasanya tergantung jenisnya, tarian singa ditarikan oleh 2 orang atau kurang. Kenapa
kita bilang tergantung jenisnya, ini dikarenakan rupanya, singa yang ditarikan
itu ada 2 jenis, Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat,
memiliki warna dominan, merah, orange, dan kuning. Singa Utara, biasanya disebut
sebagai Peking Lion, atau Singa Peking, dikarenakan bentuknya yang menyerupai
anjing Peking. Penampilan Singa Utara kelihatan lebih natural dan mirip singa
kalo dibandingkan dengan Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki
yang bervariasi antara dua atau empat.



Singa Selatan biasanya disebut juga Cantonese Lion,
dan terbagi atas dua jenis, sesuai dengan pengusaha
kertas yang memberikan model utama untuk penggambaran jenis Singa Selatan ini. Jenis
singa Fat San, memiliki mulut yang lebih melengkung, sebuah tanduk, dan ekor
yang panjang. Sementara singa jenis Hok San, memiliki
mulut yang lebih mendatar, tanduk yang melingkar, dan ekor yang pendek.
Sekarang ini, jenis singa Fat San, lebih digemari. Selain itu juga terdapat,
gabungan kedua singa ini disebut sebagai Fat Hok Lion, yang memiliki mulut
berbentuk lengkung, dengan ekor yang pendek. Selain itu dalam perkembangannya
sekarang, terdapat pula versi mini dari singa-singa asli berbadan besar, yang
dimainkan oleh anak-anak. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk
sehingga kadangkala mirip dengan binatang 'Kilin'. Gerakan antara Singa Utara
dan Singa Selatan juga berbeda. Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan
kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring dengan tabuhan gong dan
tambur, gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena
memiliki empat kaki.



Yang
paling akhir dan tidak kalah penting adalah iring-iringan waktu tarian-tarian
ini dilaksanakan. Yang paling penting dua instrumen, Drum Cina, yang bikin
bunyi dung, dan simbal Cina, yang bikin bunyi ceng. Drum ini dibuat dari bahan
kayu keras dengan kulit kerbau yang menutupi sepanjang lingkaran atas, dan
didalam drum ini terdapat lempengan logam, yang menjadi penghasil bunyi dan
penguat bunyi agar suara drum terkesan menjadi lebih dalam. Pemain drum adalah
pemimpin seluruh kegiatan ini, wong, gerakan naga dan singa ini ditentukan oleh
bunyi drum. Sementara pemain simbal, akan berada disamping penabuh drum, yang
akan melihat ke arah mata sang singa.



Sumber : seputar-pasuruan.blogspot.com/.../barongsai-sedikit-tentang-sejarahnya.html -




1 Komentar :

Putra Mataram
05 Agustus 2011 - 02:26:27 WIB

Sip... tulisannya .. sukses buat Mirota selalu

PuMa

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







Humas

Mirota

Admin #1

Admin #2





/ /


Februari, 2012
MSSR KJS
   1234
567891011
12131415161718
19202122 232425
26272829   




177483


MY IP : 103.29.215.166

Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 20137

Hits hari ini : 70
Total Hits : 177483

Pengunjung Online: 1